Minggu, 14 April 2013

Lobster Air Tawar : Bisnis Lobster Air Tawar Sangat Prospektif

Handphone di saku Mualim mendering kencang. Dengan tangan yang masih basah, langsung handphone diangkatnya. Dari seberang sana, terdengar sayup sayup, permintaan lobster ukuran 2 inc atau 5 cm.

“ Berapa banyak,” Mualim membalas omongan di hand phone. “ Kirim sebanyaknya, ada 700 .. ya 700 ekor, ada seribu … bagus,”kata orang di seberang. “ Besok kirim agak lebih pagi,”tambahnya.


Mualim, langsung mengiyahkan. Dan langsung saja dia memanggil Dullo, anak buahnya, minta agar besok dikirim lobster ukuran 2 inc sebanyak 1000 ekor ke satu tempat di kawasan Bintaro, Pondok Aren. “ Besok kita kirim sedikit lebih pagi,”katanya.
Dan memang, pembelinya seorang pedagang lobster di kawasan Bintaro. Ini pembeli utama lobster hasil budidaya Mualim. Dalam seminggu, Mualim rutin dua kali mengirim ke tempat ini. Dan setiap hari, bapak dua anak ini, dibantu Dullo, harus sibuk melayani pembeli yang datang ke farm-nya yang berada dalam komplek perumahan Astek, Lengkong Gudang Timur, Serpong ini.

“Dalam beberapa bulan ini, permintaan lobster yang ukuran 2 Inc memang lebih tinggi, ketimbang waktu waktu sebelumnya,” cerita Mualim. Tak kurang dari 10.000 hingga 12.000 ekor yang dikeluarkan setiap bulannya. “ Permintaan ada juga yang datang dari luar kota, beberapa waktu lalu ada permintaan dari Nusa Tenggara Barat, lumayan banyak,” ceritanya.

Soal harga masih relative menguntungkan. Hanya memang tidak lagi setinggi, pada saat lobster air tawar ini mengalami masa booming, beberapa tahun silam – yang kala itu sempat mencapai Rp 3000 - hingga Rp 3500/ekprm untuk lobster ukuran 2 inc. “ kini harganya di bawa itu, tapi masih menguntungkan,”tambah Mualim lagi.
Mual – begitu dia selalu dipanggil, memulai budidaya lobster air tawar ini sejak 4 tahun silam. Awalnya, hanyalah dari cerita kawan, bahwa lobster air tawar harganya cukup bagus, dan banyak diminati kalangan penghobies dan juga restoran restoran kelas tinggi.

Berkat bantuan seseorang yang memang sudah lama dikenalnya, Mual membeli dua paket indukan lobster yang dalam satu paketnya, terdiri dari 5 betina dan 3 jantan. Selain, juga membeli 100 ekor benih ukuran 2 inc. Bermodalkan indukan dan benihnya ini serta dua kolam semen masing masing berukuran 6 meter persegi, mual merintis budidaya lobsters air tawar.

Dalam awal perjalanannya cukup bagus. Kolam semen Mual bertambah lagi, karena indukan lobster sudah mulai membuahkan anakan. Sementara lobsters 2 inc bertambah besar dan sudah harus diseleksi antara betina dan jantan, lalu dipisahkan dalam kolam terpisah. “ Yang ini harus dipisah, agar tidak terjadi kawin muda,” jelasnya.
Diakui bahwa pertumbuhan lobsters ini sangat cepat. Hanya memang terkadang ada resiko yang harus ditanggung pembudidaya. Dan Mualim sudah mengalami derita itu, tatkala bakteri menyerang semua lobsternya, ketika usaha budidaya sudah berjalan hampir 1,5 tahun. “ Tak kurang dari 10 ribu ekor indukan dan anakannya ludes, mati.”

Kala itu, pergeseran musim kemarau ke musim hujan. Tak tahu bagaimana asal muasalnya. Yang pasti, lobster lobster itu tampak loyo, tak lincah, pucat, dan tak mau makan. Tak berapa jam kemudian langsung mati. Dan kemudian menular pada lobster lobster yang lain.

Mungkin, antaran belum Pengalaman cara menangani lobster yang terserang penyakit, sehingga panik, dan tak berhasil ditanggulangi. Sarana dari pembudidaya yang lain, agar direndam dalam air garam, ternyata tak membuahkan hasil. “ Yang terselamatkan hanyalah lobster yang sedang bertelur yang ada di dalam akuarium – semua yang ada di kolam mati,” Mual mengenang dukanya.

Memamng diakuinya, bahwa ada kesalahan teknis yang terjadi dalam pembuatan struktur kolamnya. Kala itu, semua kolam hanya dihubungkan dengan 1 mesin air yang berputar pada semua kolam. Sehingga satu kolam terkena penyakit, maka semuanya akan tertular. Kini tidak lagi, pola penyaluran air diubah total, dan dengan menggunakan gelembung udara, Mual kini lebih yakin, bila ada yang terserang penyakit, bisa diisolasikan.

Adis Farm – nama farmnya Mualim, sudah mulai berkembang baik. Berdiri ada areal seluas 1400 meter persegi, dengan 80 kolam ukuran rata rata 10 meter persegi, Mual kini memiliki lebih dari 500 indukan dan mampu memproduksi anakan 20 ribu hingga 30 ribu setiap bulan.

Kini, permintaan terhadap lobster ukuran 2 inc terus meningkat. Akibatnya, Mual tidak bisa lagi untuk melakukan pembesaran sebagai lobster konsumsi. “ Ya, belum sempat dibesarkan, anakannya langsung dibeli,”ungkapnya dengan wajah yang sumbringah. “ Kini dengan budidaya lobster saya merasa optimis mampu menyekolahkan kedua anaknya,”tandas, sembari mengundang kalangan masyarakat yang senang dengan lobster bertandang ke farmnya di komplek Astek, Lengkong Gudang Timur, Serpong Tangerang.

Sumber :
http://www.tropisnews.com/detail.php?view=berita&id=28

Kamis, 11 April 2013

Lobster Air Tawar : Proses Pengeraman Pada Lobster Air Tawar


Proses Pengeraman Pada Lobster Air Tawar


Lobster air tawar betina ( indukan ) yang sedang membawa telur biasa disebut dengan istilah induk gendong telur.

Pada periode awal pengeraman, induk betina yang sedang gendong telur akan melipatkan ekornya dengan erat ke bagian dalam sebagai bentuk perlindungan terhadap telur – telurnya.


Telur ini berbentuk oval dan berdiameter 1/10 inci dan akan dierami selama kurun waktu 4 – 6 minggu.

Masa ini disebut dengan masa inkubasi. Apabila suhu air dapat dipertahankan dikisaran 280 C, masa inkubasi akan berlangsung lebih cepat, yakni selama 30 – 35 hari. Selama dalam masa pengeraman, kualitas air harus selalu diperhatikan dan dijaga.

Pengecekan terhadap induk betina yang berstatus gendong telur baru aman untuk dilakukan dalam tempo 2 minggu setelah proses pemijahan terjadi. Setelah itu, induk gendong telur harus segera dipindahkan ke kolam / akuairum pengeraman.

Pemindahan induk gendong telur harus dilakukan dengan sangat hati – hati untuk menghindari rontoknya telur akibat pergerakan ( berontak ) induk. Selama dalam masa pengeraman, telur – telur lobster air tawar akan berkembang melalui 5 fase, yaitu :

Fase 1 ( hari ke 1 – 3 ), telur berwarna keabuan. 
Fase 2 ( hari ke 12 – 14 ), telur berwarna kecoklatan. 
Fase 3 ( hari ke 20 – 23 ), menginjak fase eye spot ( titik hitam pada telur ). 
Fase 4 ( hari ke 28 – 35 ), telur berwarna oranye kemerahan; organ tubuh sudah terbentuk lengkap. 
Fase 5, telur telah berubah menjadi burayak yang sudah siap turun gendong ( lepas dari induknya ). 

Menempatkan induk betina yang sedang gendong telur dapat dilakukan melalui 2 cara, yaitu :

Pengeraman tunggal, yaitu dengan cara menempatkan 1 ekor induk gendong telur ke dalam 1 kolam / akuarium. 

Pengeraman massal, yaitu dengan cara menempatkan beberapa ekor induk gendong telur ke dalam 1 kolam / akuarium. Beberapa induk gendong telur yang ditempatkan secara bersama – sam ke dalam kolam / akuarium harus mempunyai umur telur yang sama ( minimal berselisih 10 hari ).

Sumber :
http://www.infoagrobisnis.com/2009/05/proses-pengeraman-pada-lobster-air.html
6 Mei 2009

Sumber Gambar :
G. Nugroho Susanto
http://blog.unila.ac.id/gnugroho/2009/09/11/telur-lobster-air-tawar-cherax-sp-yang-mirip-buah-anggur/

Nikmatinya Sensasi Memelihara Lobster Air Tawar


Nikmatinya Sensasi Memelihara Crayfish

Kalau kebanyakan ikan mengandalkan sirip untuk berenang, penghias akuarium yang satu ini justru tak segan berjalan menggunakan kaki-kakinya.
Badannya bongkok, kaki-kakinya lincah berjalan di dalam air. Sedangkan tangannya dilengkapi capit yang besar dan kuat untuk berpegangan saat berpindah antardahan tanaman air. Apalagi, kulit tubuhnya yang warna-warni menambah semarak akuarium. Lihat saja rerupa warnanya. Ada merah, ungu, oranye, biru, hingga putih, siap menyegarkan pandangan. Siapa dia?
Orang mengenali sosoknya sebagai lobster air tawar ataucrayfish. Selain baik dikonsumsi manusia, anggota kelas Crustacea ini juga menggemaskan sebagai penghias akuarium.
Menurut Slamet, pemilik Pondok Air, penjual ikan hias di wilayah Tangerang, Banten, saat ini memelihara lobster air tawar tengah ngetren di kalangan hobiis. ”Sekarang ini kebanyakan orang main yang unik-unik. Nah, ini (lobster) masuk kategori unik,” ulasnya.
Ketika memiliki akuarium baru, hobiis mencari sesuatu yang beda. Lantas, dipilih lobster sebagai penghias akuarium. Salah satunya Kendran Matambas, hobiis di Tangerang. Ia memborong indukan lobster untuk memenuhi koleksi akuarium. ”Lobster gampang dipelihara, unik, warnanya cakep,” ucap Kendran yang sudah dua tahun memelihara lobster hias.
Atraksi Jalan dan Makan
Lobster bisa memberi sensasi dibandingkan memelihara ikan,” ungkap Slamet. Sensasi itu, lanjutnya, akan dirasakan hobiis ketika melihat lobster sedang berjalan dan makan ikan. Meski dianugerahi kaki renang, lobster tak segan berjalan menggunakan kaki jalan. Ia pun bisa berpegangan pada dahan atau tangkai daun menggunakan capitnya saat memanjat tanaman air. Sangat menyenangkan bila atraksi ini sempat tertangkap mata.
Lobster juga lihai menangkap ikan yang diumpankan sebagai makanan. Lobster akan mencabik-cabik ikan menjadi potongan kecil dengan capitnya yang kokoh dan tajam. ”Ketika dia nangkap ikan, dicabik-cabik lalu dimakan, itu bisa lebih sensasi,” jelas penggemar ikan hias ini.
Apalagi varian lobster air tawar cukup banyak. Menurut Slamet, lobster dibedakan berdasarkan bentuk alat kelaminnya, yaitu lobster (alat kelamin berupa titik) danklarcii (alat kelamin berupa tangkai panjang). Kelompok lobster terdiri dari lobster capit merah (red claw) dan lobster papua, seperti tiger papuaorange papuablue moon, blue stream, dan blue yabbie. Sedangkan kelompokklarcii meliputi snow white, red marlboro, dan red klarcii.
Lobster red claw berasal dari Australia dengan sekujur tubuh berwarna biru tapi bagian bawah capitnya berwarna merah. Karena warna capit itulah ia diberi nama red claw. Selain cantik menghias akuarium, red claw juga mudah dijumpai di restoran sebagai lobster konsumsi karena ukurannya mencapai 8 inci atau 20,3 cm.
Lobster papua berasal dari perairan Papua. Bermacam-macam pula warnanya, seperti oranye, biru, ungu, cokelat, hingga cokelat kehitaman, dan dengan ukuran mencapai 7 inci. Kelompok klarcii berwarna putih dan merah berukuran maksimal sekitar 4 inci (10,2 cm). Sedangkan lobster hias umumnya dijual dengan ukuran 2 – 4 inci.
 Mudah Dipelihara
Slamet berpendapat, salah satu keunggulan lobster adalah mudah dipelihara. Pakannya berupa pellet atau ikan-ikan kecil yang biasanya untuk umpan seperti ikan mas dan guppy. Jika hobiis hanya memilih pakan pellet pun tak jadi soal, sebab pellet khusus lobster mengandung protein tinggi, sebesar 30%. ”Makanannya kalau pakai pelet itu seperdelapan berat badan per hari, sehari dua kali, pagi sama sore,” saran Slamet.
Lantaran lobster termasuk hewan nokturnal, pemberian pakan dimaksimalkan pada sore hari. Sementara penyajian menu ikan cukup dua minggu sekali sebagai variasi. Jika terlalu sering diberikan ikan, sifat kanibal lobster akan lebih agresif. 
Si crayfish ini juga bisa hidup di dalam air ber pH tinggi. ”Standar untuk ikan hias itu ’kan (pH) 6-6,5 yang paling bagus. Tapi kalau lobster itu 7-7,5 masih bisa hidup,” jelas pria kelahiran Pekalongan, 29 Juni 1965 ini. Ketinggian air cukup dua kali tinggi tubuh lobster atau sebatas bata tenggelam sebagai rumahnya. Jika menggunakan akuarium setinggi 20 cm, cukup diisi air setinggi 6 cm saja. Lobster pun tidak mempermasalahkan warna air yang agak keruh.Selain itu, sirkulasi oksigen tidak wajib ada di kolam budidaya atau akuarium tempat hidup lobster. Pasalnya, hewan bercapit ini sering muncul ke permukaan untuk mengambil udara bebas.
Meski tinggal di dalam akuarium atau kolam, lobster tetap butuh tempat berlindung. ”Bisa dibuat pakai paralon, bambu, atau bata yang bolong untuk perlindungan,” kata Slamet. Tanaman air berdaun keras juga bisa sebagai tempat berlindung, seperti keladi.
Ganti Kulit
Saat mengalami ganti kulit (molting), lobster harus dipisahkan dari koloninya agar tidak diserang oleh sesamanya. Simpan lobster dalam wadah baskom selama dua jam hingga proses ganti kulit selesai. Lobster yang akan ganti kulit ditandai dengan perubahan warna cangkang kulit menjadi buram, lobster cenderung pasif atau diam, dan tubuhnya dalam posisi tidur miring. Molting bisa mengalami gagal jika kekurangan oksigen.
Seringnya pergantian air juga memicu intensitas ganti kulit karena perubahan kadar asam. Pergantian air sebaiknya dilakukan seminggu sekali. ”Kalau masih anakan, ukuran 2 - 3 inci, seminggu sekali ganti air lebih bagus. Tapi, kalau sudah 5 inci molting-nya agak lama. Ibarat orang, kondisi badan sudah normal,” pungkas Slamet.  
Cukup mudah bukan? Yuk, pelihara lobster hias air tawar!   (sumber: agrina)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India